Tasawuf Modern dari Sang Pembaharu Syeikh Muhammad 'Abdul Gaos Saefulloh Maslul Qs.
Dewasa ini tasawuf atau thariqah semakin gencar diminati karena berlandaskan bahwa manusia-manusia merasa kekeringan spiritual, apalagi para akademisi yang bergelut dengan ilmu pengetahuannya. Berkecamuknya atau tidak seimbangnya antara spiritual yang dapat mengolah emosi manusia dengan intelektualnya menyebabkan nilai moral disetiap sektornya hampir bahkan tertiadakan. Oleh karena itu banyak yang menginternalisasi kesemrawutan ini baik dari tingkat pemerintahan pusat ataupun di lingkungan masyarakat sekitar dan menghasilkan bahwa perlunya pendalaman spiritual dan pengelolaan emosional.
Melalui metode dzikir Thariqah Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah PP Suryalaya Sirnarasa ini para ikhwan (sebutan orang yang telah ditalqin dzikir thariqah ini) diajarkan bagaimana menjadi pecinta kesucian jiwa. Darisinilah bahwa ikhwan-ikhwan yang baru ditalqin ataupun yang sudah lama menurut saya belum awas terhadap analisanya kepada Abah Aos terkait siasatul mulk (politik raja)nya jika dikaitkan dengan ageman Tanbih karya Abah Sepuh.
Dalam psikologi sosial kita bisa mengetahui bahwa aliran subjektivisme yg menyatakan bahwa individulah yg membentuk masyarakat dalam segala tingkah lakunya ini merupakan gagasan bahwa jika setiap orang baik maka masyarakatpun akan baik inilah framing terhadap kaum sufi(pengamal thariqah) secara keseluruhan.
Hal ini (opini publik) buru-buru saya bantah, berdasarkan analisa sederhana saya yang menghasilkan opini bahwa sebenarnya kaum sufipun menganut aliran objektivisme yang menyatakan bahwa masyarakatlah yg menentukan individu. Disini kita mesti tahu letak proposionalnya, aliran psikologi sosial subjektifisme itu dianut dalam sektor pendidikan ruhaninya terkait pelajaran, pengkajian, dan pengamalan amalan thariqahnya; jangan menyalahkan ajaran orang lain. Tetapi untuk aliran psikologi sosial objektifisme itu berkaitan erat dengan keseharian kita berada di masyarakat umum, berorganisasi, bahkan bernegara; kritik Abah Aos terkait baju anak SD seharusnya merah-putih, bukan putih merah, kritik Abah Aos tentang banyaknya partai membawa kesemrawutan menghasilkan kemanusiaan yang jail dan biadab dan perseteruan indonesia.
Simpulnya, beliau pun menganut aliran objektifisme dengan mengkritik pemerintahan terkait sistem pemilu yang mempunyai banyak partai dengan dalih kemajuan berdemokrasi.
Inilah tasawuf modern, pembaharuan dalam tasawuf, ikhwanpun mesti melek apa yang terjadi di negara kita saat ini. Bukan hanya memperbaiki diri sendiri saja, tetapi lingkungan sekitar tidak ikut mengurusinya. Jauh sebelum apa yang disampaikan Buya Hamka, Abah Anom (gurunya Abah Aos) telah menyebarkan tasawuf modern ini, yaitu mirip tasawuf yang ditawarkan Buya Hamka adalah tasawuf modern atau tasawuf positif berdasarkan tauhid. Jalan tasawufnya melalui sikap zuhud yang di laksanakan dalam ibadah resmi, sikap zuhud, yang tidak perlu menjauhi kehidupan normal.
Komentar
Posting Komentar